Village
Placement
One short experience offered on the Study Indonesia Program each year is a
mid-semester village placement. Students stay in a variety of different villages
in groups of 3 or 4 for about 5 days, taking part in village life. We have been
warned by students that, "it is a bit tough on the highly citified," but most
students found it one of, if not THE most, valuable experience of their semester.
Below one student reports on his village placement, during the inaugural placement.
By Desmond Mills
Pusat Studi Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada
See village study photos
Pendahuluan
Pada tanggal 27 Maret 1999, dua puluh lima mahasiswa ACICIS, diantar oleh dosen-dosen
PSI, berangkat dari Fakultas Sastra UGM ke desa-desa di Kecamatan Seyegan, Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kecamatan Seyegan itu terletak kira-kira
sepuluh kilometer di sebelah barat kota Yogyakarta. Selama enam hari, dari tanggal
27 Maret sampai 1 April, mahasiswa ACICIS mengalami kehidupan desa sambil mengamati
beberapa kegiatan yang dilaksanakan penduduknya untuk mencari nafkah atau memajukan
kelancaran kehidupan sosial mereka. Hal ini dalam rangka Program Kuliah Lapangan
(PKL) bagi mahasiswa ACICIS Angkatan ke-8. Setiap mahasiswa ACICIS diwajibkan
membuat laporan tertulis tentang pengalaman atau hasil pengamatan yang diperolehnya
selama tinggal di desa.
Penulis menginap di rumah Bapak Sunardi, ketua Dusun Jamblangan, Desa MargoMulyo.
Dusun adalah salah satu tingkat dalam organisasi desa. Oleh karena itu, penulis
memutuskan mencatat laporan mengenai organisasi dusun. Rumah Bapak Sunardi terletak
di tepi sawah dan saudaranya menjual hasil alam di kios pasar. Oleh karena itu,
penulis menentukan kegiatan/persoalan pertanian sebagai hal yang kedua untuk
membuat laporan.
Laporan ini, strukturnya sederhana. Bagian pertama adalah pendahuluan, bagian
kedua mengenai organisasi dusun/desa, bagian ketiga mengenai pertanian dan kegiatan
lain yang berhubungan dengan hasil bumi, dan bagian keempat, yang terakhir,
berupa sebuah glosarium. Glosarium ini dimaksudkan untuk menjelaskan beberapa
kata/istilah yang artinya baru diketahui penulis dan belum didefinisikan dalam
teks.
Organisasi Dusun Desa
Dari bawah sampai atas struktur mengikutsertakan semua warga desa yang tergabung
dalam keluarga, dasawisma, rukun tetangga, rukun warga, dusun dan desa. Setiap
dasawisma terdiri darl 7-10 keluarga yang berdekatan. Rukun Tetangga (RT) tersusun
dari pergaulan 4-5 dasawisma. Di Dusun Jamblangan, tempat pengamatan dilaksanakan,
ada dua Rukun Warga (RW) yang masing-masing terdiri dari tiga RT. Jamblangan
adalah dusun ke-tigabelas di Desa MargoMulyo, yakni sebagai dusun yang terakhir
di MargoMulyo.
Bertolak dari asumsi bahwa rata-rata ada empat jiwa per keluarga dan tujuh keluarga
per dasawisma kemudian, dengan informasi di atas, penduduk desa dapat diperhitungkan
sebagai berikut:
-
7 keluarga
x 4 jiwa per keluarga = 28 jiwa per dasawisma;
-
5 dasawisma
x 28 jiwa per dasawisma = 140 jiwa per RT;
-
3 RT x 140
jiwa per RT = 420 jiwa per RW;
-
2 RW x 420
jiwa per RW = 840 jiwa per dusun;
-
13 dusun x
840 jiwa per dusun = 10.920 jiwa.
Hasil hitungan di atas memperlihatkan jumlah penduduk Desa MargoMulyo
kira-kira sebelas ribu jiwa. Selain struktur di atas yang sudah kita ketahui,
di tingkat dusun ada juga sebuah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). LKMD
itu mengatur kegiatan sosial di dusun untuk membantu mempertahankan kehidupan
desa. Hal-hal yang dilaksanakan LKMD itu dapat diklasifikasikan dalam beberapa
bidang, yaitu agama, simulasi P-4, siskamling, pendidikan, kebersihan, pembangunan,
kesehatan, olahraga kepemudaan, kesejahtera sosial, dan Pendidikan Kesejahteraan
Keluarga (PKK).
Sesudah terpilih, Ketua Dusun memegang jabatannya sampai waktu pensiun, yaitu
sampai usianya 65 tahun. Ketua Dusun tidak digaji dengan uang, tetapi desa memberikan
tanah kas kepadanya seumur hidup. Hasil alam dari tanah itu menjadi sumber pendapatan
untuk Pak Dusun sekeluarga. Hasil alam itu digunakan sebagai bahan makanan keluarga,
diberikan kepada saudara, dan dibawa ke pasar, baik desa maupun kota Yogyakarta,
untuk dijual.
Di pihak lain, Kepala Desa (KD) berhak memegang jabatannya selama delapan tahun.
Sesudah itu, penduduk desa harus memilih KD baru atau memilih lagi KD lama.
KD tidak mendapat gaji, tetapi dia diberi lungguh (pengkok, tanah) seluas 3
- 4 ha. Tanah itu harus dikembalikan kepada desa saat KD berhenti dari jabatannya.
Persoalan terpenting yang harus diatasi adalah menyediakan lapangan kerja untuk
pengangguran. Bahkan orang muda yang sudah lulus SLTA terpaksa berusaha di sektor
informal, misalnya bekerja dengan saudara mereka di kios pasar. Sebagian besar
penduduk desa bekerja di sektor pertanian. Pekerjaan lain termasuk (a) kerajinan,
misalnya membuat tikar, kepang dan gedek, (b) industri kecil, misalnya pembuatan
batu-bata, genting dan emping mlinjo (makanan khas Jawa), dan (c) perdagangan,
misalnya penjualan hasil pertanian di pasar. Selain ini, ada juga penduduk desa
yang pergi setiap hari ke kota Yogyakarta mencari nafkah. Dalam bidang ini ada
bermacam-macam pekerja, misalnya pegawai negeri, pegawai swasta, tukang becak,
pedagang kaki lima dan lain-lain. Meskipun demikian banyak orang desa, khususnya
dari keluarga yang besar, terpaksa bermigrasi ke pulau lain di Indonesia, seperti
Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi, untuk mencari pekerjaan.
Di MargoMulyo belum ada kesempatan untuk menyediakan penginapan pariwisata,
sebab desa itu tidak begitu jauh dari kota Yogyakarta dan kota lain, misalnya
Magelang dan Wonosobo. Mungkin desa MargoMulyo bisa mengerahkan pikiran untuk
merencanakan acara pariwisata seperti 'Meet the Farmer' ('Satu hari dalam kehidupan
petani'). Ini sebagai perjalanan pariwisata selama satu hari untuk turis asing
yang menginap di hotel-hotel kota Yogyakarta.
Pertanian
Proses Penanaman Padi
Di Indonesia, beras adalah makanan yang sangat bermutu. Selanjutnya, beras
dapat disimpan lebih lama daripada sumber karbohidrat lain, seperti jagung,
ketela, pisang dan sebagainya.
Padi sawah ditanam pada petak-petak sawah yang hampir sepanjang tahun
digenangi air. Oleh karena itu, sawah-sawah biasanya terletak di wilayah
yang senantiasa mempunyai persediaan air. Supaya hasil padi sawah baik,
petani-petani harus:
pertama, mengatur air sawahnya dengan memakai sistem saluran-saluran irigasi
dan parit-parit pembuangan. Air mengalir melalui saluran irigasi induk
dan terus menuju ke sawah. Saluran-saluran pembagi air yang bercabang
dari saluran induk itu mengalirkan air ke seluruh bagian sawah. Dari sawah
air yang tidak dipergunakan itu mengalir ke luar lewat jaringan parit
pembuangan. Sistem pengaturan air tersebut digunakan untuk mengatur dalamnya
air di dalam petak-petak.
kedua, membagi seluruh tanah sawah menjadi petak-petak. Petak-petak itu
dibatasi dengan pematang-pematang masing-masing 30 cm tinggi dan 40 cm
lebar. Petak-petak harus diratakan supaya dalamnya air di mana-mana sama.
Bila tanahnya agak miring petani harus membuat banyak petak sempit-sempit.
Kalau permukaan tanah tidak begitu miring dapat membuat petak lebar.
ketiga, membuat persemaian. Biasanya tempat persemaian ada di sawah. Luas
tempat persemaian sebaiknya sepersepuluh luas seluruh sawah. Tanah untuk
persemaian harus diolah, sehingga menjadi gembur, bersih dari rumput liar,
dan subur. Pupuk harus ditambah dan tanah persemaian diratakan.
keempat, benih jenis padi unggul harus dipilih. Benih ditanami dan tumbuh
di tempat persemaian selama satu bulan. Sesudah itu, bibit-bibit harus
dicabut.
kelima, sebelum ditanami padi, petak-petak harus dibajak, dibersihkan
dari rumput liar dan diratakan. Biasanya sapi dipakai sebagai tenaga penarik
bajak. Kadang-kadang traktor/mesin juga dipakai. Petak-petak harus diratakan
supaya dapat dikeringkan secara merata.
keenam, bibit padi ditanam pada petak berlumpur. Pada waktu menanam, air
pada petak-petak sawah yang akan ditanami dikeringkan. Dalamnya lumpur
paling baik setinggi betis orang. Akar padi dipegang dengan jari-jari,
lalu dimasukkan dalam lumpur sedalam 2-3 cm. Padi ditanami dalam larikan-larikan
(jaraknya 20 cm) supaya batang-batang padi akan berumpun dan menghasilkan
bulir-bulir padi.
ketujuh, sesudah tiga bulan dari masa tanam, padi siap panen. Selama kurun waktu
ini dalamnya air harus diatur dan pupuk ditambah supaya menghasilkan panen optimal.
Sawah Padi di Jamblangan
Di sekitar Dusun Jamblangan ada 21 hektar sawah. Tanahnya liat dan subur.
Permukaan tanah tidak begitu miring, tetapi cukup miring untuk memastikan aliran
air. Sawah itu terletak di atas Slokan Mataram. Persediaan air berasal dari
mata air di lereng bukit kecil. Kemudian parit-parit pembuangan menuju air ke
Slokan Mataram. Oleh karena itu, petani MargoMulyo tidak usah memakai pompa
untuk menggambil air dari Slokan Mataram.
Satu kali per bulan ada pertemuan sebuah Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3-A)
supaya petani dapat mencapai keputusan tentang masalah dan tugas mereka, misalnya
membersihkan saluran, mengurus bendungan dan menentukan jadwal tata tanam.
Sawah di Jamblangan terbagi menjadi empat blok yang masing-masing disebut Blok
A, B, C, dan D. Setiap blok, luasnya rata-rata 5 ha, dimiliki dan dikerjakan
oleh kelompok petani terdiri dari kira-kira 20 pekerja. Kelompok petani ini
membuat keputusan di tingkat blok, misalnya waktu menanam dan memanen padi,
memilih pupuk, dan menentukan kuantitasnya.
Biasanya petani lebih suka memakai pupuk kandang daripada pupuk buatan. Menurut
mereka pupuk kandang lebih efisien dari sisi gizi. Selanjutnya, mereka dapat
menghindari pengeluaran belanja pupuk buatan yang sangat mahal.
Dalam teorinya, padi dapat ditanami tiga kali per tahun tetapi, menurut petani,
akan lebih baik jika padi ditanami dua kali per tahun saja dan tanaman lain
(seperti jagung, kacang panjang, ketela, bawang putih, cabe) ditanami satu kali
per tahun. Tanaman-tanaman yang tidak sepenting padi itu disebut palawija. Palawija
yang biasanya ditanam pada musim kemarau itu membantu pengaturan penampungan
gizi dan air di dalam tanah.
Tentu saja, banyak kegiatan desa yang berhubungan dengan pertanian, misalnya
peternakan, perikanan, pengusahaan pekarangan, produksi dan pemasaran bahan
pangan.
Persoalan dalam pertanian cukup banyak. Dalam laporan ini hanya bisa membuat
daftar persoalan saja, seperti permasalahan yang berikut:
-
pengaturan sistem berturut-turut (ayah - anak laki-laki)
atau pengerahan (pemasukan pekerja baru 'dari luar') petani:
-
perubahan iklim, misalnya El Nino;
-
peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan pangan;
-
lahan-lahan yang produktif ditanami padi relatif semakin
sempit karena proses urbanisasi.
|