ACICIS logoA C I C I S

Perlu Saling Pengertian Warga Australia-Indonesia

Article about Sarah Rennie
Australian National University
Published in Kedaulatan Rakyat newspaper, Yogyakarta, 18 September 2007
http://www.kr.co.id/

ACICIS students climbing Mt Ungaran in Central JavaKEPRIHATINAN akan semakin sedikitnya generasi muda yang menggeluti seni tradisi di Indonesia ternyata juga dirasakan Sarah Rennie (22) bule asal Australia. Mahasiswa Fisipol dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada ini mengungkapkan sangat bangga akan kekayaan seni tradisi dan budaya yang dimiliki Indonesia khususnya yang ada di Pulau Jawa.

"Kula sampun sinau budaya Jawi," ucap Sarah pelan dalam bahasa krama inggil atau Jawa halus kepada KR saat mengikuti prosesi labuhan Merapi belum lama ini. Sarah mengaku terkesan dengan tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal itupula yang kemudian mendorongnya untuk belajar Bahasa Jawa sejak kuliah di Australia.

Rasa penasaran akan seni tradisi Indonesia akhirnya terobati setelah ia mendapat kesempatan untuk belajar bahasa Jawa di UGM. Secara pribadi ia mengaku iri dengan kekayaan tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia. Orang Australia saat ini, kata Sarah, tidak banyak mengenal seni dan budaya nenek moyangnya apakah itu tarian, lagu rakyat dan seni tradisi lainnya. Hal itu karena sebagian besar masyarakat Australia adalah pendatang.

"Nenek moyang saya konon berasal dari Irlandia, tapi saya tidak tahu seperti apa seni dan budaya Irlandia," kata Sarah yang kuliah di Australia National University Melbourne. Ia mengungkapkan orang Indonesia sangat beruntung sekali memiliki budaya dan seni tradisi yang sangat banyak. Dengan mempelajari seni budaya Indonesia terutama Jawa ia ingin ikut mendorong agar masyarakat Indonesia merasa memiliki dan mencintai budaya yang dimiliki.

"Seni tradisi yang dimiliki sangat bagus dan tidak dimiliki bangsa lain jangan sampai dilupakan," kata Sarah yang di Yogyakarta sudah mempelajari Karawitan dan sangat ingin bisa menari Jawa. Ditambahkannya ibaratnya Australia kaya secara materi namun Indonesia lebih kaya secara seni dan budaya.

Lebih lanjut Sarah mengatakan antara Australia dan Indonesia memiliki kedekatan geografis namun ia melihat justru kedekatan emosional masih sangat kurang antar keduanya. Di Australia terutama di universita mahasiswa sedikit sekali yang mengambil studi tentang Indonesia. Ia melihat banyak orang Australia berpandangan sempit tentang Indonesia, begitu pula sebaliknya pandangan orang Indonesia tentang orang Australia.

"Sangat penting bagi masyarakat ke dua bangsa untuk tidak melakukan generalisasi terhadap suatu tindakan karena baik orang Australia dan Indonesia terdiri banyak orang dengan bermacam sifat yang berbeda," kata Sarah. Justru dalam banyak perbedaan tersebut perlu digali bermacam kesamaan yang memang dimiliki kedua bangsa dengan sama-sama saling belajar. (Agung P)-m.